Aku mengingatnya lagi, walau tak perlu seluruh ingatan
bersikukuh untuk membuatnya hadir. Semacam segelas teh hangat yang kau
seduh setiap pagi yang tak perlu ingatan kuat tuk membuatnya. Ia hanya
hadir begitu saja. Walaupun kadang tak sesuai kehendak. Hanya ingin…
Aku
mengingatku ketika waktu-waktu yang mengapung gamang berusaha kau
tangkap satu persatu dan kau jejalkan ke dalam kepala kemudian pecah
menjadi serupa kembang api yang meletup-letup cepat. Percikan harap
berhamburan bagai anak-anak kecil yang berlarian di kala hujan.
Menyentak-nyentak genangan, basah oleh rintik-rintik yang menyegarkan
dan kemudian diam menjadi demam..
Ada satu celah menganga
di setiap rentang ingatan. Suatu celah yang tersembunyi dalam-dalam
walau kadang selalu tersingkap saat hujan mengirimkan sebuah pesan.
Celah tempat sunyi dan sepi saling memilin menjadi kerinduan. Sebuah
nganga yang berujung pada entah yang akan menelanmu hingga kau tak dapat
menemukan jalan pulang.
Di nganga ingatan sembunyi jawab
yang dicari dan segala kecap yang tak bisa diucap bibir ataupun mulut
ataupun bahasa tetubuhan indera. Ini adalah muara segala ingatan yang
pernah ada. Muara yang kandas pada nasib, kemudian beriak lah segala
keinginan, kerinduan menunggu pemenuhan. Serupa kolam yang beriak
tertetesi hujan kemudian menjadi teduh.. Teduhan yang kekal melampaui
segala ingat yang telah tercipta kemudian surut perlahan terhisap lubang
waktu menjadi sebuah lupa..
**Awal Maret di 2013, sudah lama gak corat-coret :D