Tampilkan postingan dengan label Letupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

Catatan orang asing


Ada bincang yang asing, seperti malam ini
Bincang yang mengapung hambar kemudian menguap begitu saja di pengap udara
Aku menghilangkan diri ditengah waktu yang tergesa
"Hey, bukankah pada mulanya kita melangkah bersama?"
Kemudian kau berjalan cepat-cepat pada garis tegas yang kau ukir sendiri
"Tunggu...!!" jeritku tercekat
Kau terus mengejar takdirmu yang datang terlebih dahulu
Sedangkan laju waktuku terus berputar dan kembali berputar pada titik awal
...aku tak pernah benar-benar melangkah maju...
Pada jarak kita yang semakin kesekian,
Aku menghela maaf panjang
Jalan kita telah meregang sedemikian melar
dan aku berhenti, terus saja memfanakan diri
Pada dirimu (atau mungkin aku) yang semakin asing,
tak perlu kunjungi kesedihanku
Aku akan baik-baik saja, memejamkan waktu bersama karib yang diam-diam aku simpan


*Malam ke sembilan di September 2014

Kamis, 03 Oktober 2013

Kata-katamu, belatimu

Ada pepatah yang mengatakan, "Mulutmu Harimaumu". Hhmm.. Tapi saya ingin mengistilahkan apa yang ada di benak saya hari ini dengan "Kata-katamu, belatimu. Yah, gak jauh bedalah.. Masih seputar apa yang keluar dari mulut..

Kata-kata itu merupakan buah dari kolaborasi antara pikiran dan apa yang tersirat di hati. Eh, pikiran dan hati beda apa sama ya? :D Kayaknya beda deh.. Pikiran lebih ke logika dan hati lebih ke perasaan... Nah, kata-kata merupakan hasil perpaduan dari logika dan perasaan..

Jadi sebetulnya jika kita berkata-kata, itu sudah merupakan hasil perpaduan antara apa yang ada di logika dan di perasaan kita. Nah, disinilah permasalahannya. Kadang kita lupa menggunakan saringan atau mungkin saringan yang kita punya sudah usang jadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Maksudnya gini, setiap apa yang kita pikirkan dan kita rasakan seharusnya sebelum kita keluarkan menjadi bentuk kata-kata seharusnya kita pertimbangkan terlebih dahulu. Nah pertimbangan itulah sebagai saringannya. Apalagi jika menyangkut orang lain.

Tidak semua yang kita pikirkan dan rasakan itu baik dikeluarkan... Kita harus pandai-pandai menyaringnya apakah ada manfaatnya jika kata-kata ini dikeluarkan? Apakah kata-kata ini tidak membuat seseorang terlukai atau tersinggung? Apakah kata-kata ini penting diucapkan atau malah cuma "nyampah saja".. Atau malah bisa timbul kesalahpahaman...

Nah, yang ingin saya bahas kali ini adalah kata-kata yang menurut saya tidak bertanggungjawab (ini pendapat subjektif saya aja ya). Kata-kata yang tidak bertanggung jawab ini maksudnya adalah jika seseorang berkata-kata tanpa peduli bagaimana reaksi dari lawan bicaranya.. Apakah akan melukai atau membuatnya sedih, tersinggung, dll.. Terlepas dari segi kesensitifan seseorang ya dalam menilainya. Karena kadang kan respon tiap orang berbeda-beda terhadap sebuah pernyataan yang ditujukan kepadanya. Yang sedang dibicarakan disini hanya berdasarkan subjektifitas (apa sih :D) saya saja.

Salah satu yang menjadi sorotan saya kali ini lebih spesifik ke kata-kata antara lawan jenis (tau kan maksudnya?). Karena ini sudah memasuki ranah yang lebih sensitif. Dua orang yang berbeda (katanya) pola pikirnya jika berkomunikasi dengan kata-kata yang tidak ada penyaringnya menurut saya akan sangat rentan timbul kesalahpahaman.

Untuk lebih mudahnya saya ambil contoh kasus saja ya. Misalnya dua orang (laki-laki dan wanita) sedang berbicara dan pembicaraannya akhirnya masuk ke "Zona Berbahaya". Kemudian tiba-tiba si lelaki mengucapkan perkataan yang ambigu, contoh:

Mr. J: Ayo kita sempurnakan perjalanan..
Ms. I: Heee?? maksudnya?
Mr. J: eh.. engga...bercanda :D
Ms. I: ???

Ini adalah salah satu contoh kata-kata ambigu yang tidak bertanggung jawab... Sudah mengatakan dengan tersirat, kemudian ternyata dia bercanda pula.. Sudah membuat seseorang bingung dan bahkan Ms. I bisa jadi akan salah paham kemudian ternyata dia bilang kalau kata-katanya hanya bercanda. (_ _")

Contoh lain:

Mr. X: Ayo kita menikah... *eh, bercanda :D
Ms. Y: ????

Nah, ini contoh kata-kata yang sudah jelas maknanya namun bisa menimbulkan kesan yang kurang menyenangkan pada lawan bicaranya. Seorang laki-laki berkata "Ayo kita menikah" pada seorang wanita yang belum meikah, kemudian ia lanjutkan.."Eh, becanda". Menurut saya, kata-kata "Ayo kita menikah" itu bukanlah kata-kata yang pantas untuk dijadikan bahan bercandaan. Apalagi jika diucapkan pada wanita yang belum menikah. Bagaimana perasaan anda (para wanita) jika ada seseorang laki-laki yang berkata seperti itu kepada anda? Kalau saya sih... Yaah, agak sakit hati juga lah.. :D

Intinya, seharusnya laki-laki itu bisa menyaring dulu sebelum ia keluarkan kata-kata itu.. Pikirkan bagaimana respon lawan bicara anda yang notabene (ini sebenarnya artinya apa sih? :D) adalah seorang wanita. Jika memang anda tidak benar-benar serius dengan apa yang anda ucapkan, ya tidak perlu lah hal tersebut disampaikan. 

Atau mungkin para laki-laki akan berfikir seperti ini, "Akhwatnya aja yang terlalu sensitif". Hhmm... menurut saya lebih baik jika menghindari kata-kata yang akan menimbulkan kontroversi. Daripada timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau misalnya wanitanya minta si lelaki mempertanggungjawabkan perkataannya, apakah si lelaki berani bertanggung jawab?? Pasti tidak kaan??? (kebanyakan kasus sih begitu, berani omong doang -___-). 

Sebenarnya masih banyak contoh lainnya, bukan hanya dari percakapan lawan jenis saja. Sesama jenis pun kadang sering timbul kesalahpahaman akibat kata-kata yang mungkin belum disaring. Tapi saya coba ambil contoh yang termudah. Atau mungkin teman-teman punya contoh lainnya? Monggo di share... :D

Mungkin kita bisa mulai melatih diri kita sendiri untuk berkata-kata yang baik.. Qaulan sadiida.. Bukankah Rasulullah juga mengajarkan kita untuk berkata-kata yang baik? Coba kita mulai timbang-timbang dulu sebelum berkata-kata, apakah perkataan ini berguna atau malah akan menyakiti seseorang.. Sesuatu yang baik itu pasti keluar dari yang baik.. Jadi perkataan kita bisa menjadi cerminan diri kita sendiri.. Mudah saja jika ingin meilai seseorang, ya..lihat saja bagaimana ia berkata-kata..

So, saya menulis ini bukan karena perkataan saya sudah baik juga.. tapi saya berusaha belajar..dan sedang belajar untuk selalu bisa qaulan sadiida... Mari kita berusaha memperbaiki diri dari waktu ke waktu.. Saling memperbaiki kesalahan, bukan mencari-cari kesalahan.. Semoga kita bisa istiqomah dalam kebaikan :)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya" (HR. Bukhari Muslim).


Hari ke empat di Oktober 2013




Selasa, 07 Mei 2013

Gak ada judulnya

Otak rasanya penuh. Berisik penuh protes sana sini. Kenapa begini? Kenapa begitu? Banyak pertanyaan, tetapi tak ada jawaban. Ya sudah, bagai benang kusut saja yang entah ada dimana ujungnya.

Mau marah, tapi sama siapa? Mau teriak, ah hanya tambah membuat bising saja negeri yang sudah bising ini. Lagipula memangnya ada yang mau mendengarkan? Bukankah telinga-telinga sudah banyak yang tersumbat oleh kedengkian.

Tapi dipendam pun malah bikin sakit kepala. Ya sudah, ku muntahkan saja lewat kata-kata. Jangan dipungut jika kalian tidak suka. Lewati saja, anggap tak pernah membaca.

Mari kita mulai carut marut ini dari huruf A . Kita tuduh saja dia yang bersalah. Sok tau segalanya, sok berkuasa, sombong, hhhmm, apalagi ya.. Yah, segala yang aku tidak suka pokoknya lah. Tapi aku tak bisa membencinya. Aah, mana bisa aku membencinya. Ia bagian dari diriku juga, tak bisa dipisahkan.

Eeits, kalian jangan merasa aku sedang membicarakan kalian, atau seseorang ya. Aku tidak sedang membicarakan seseorang, tapi banyak orang, senegara bahkan sedunia.

Aku sedang membicarakan manusia-manusia. Banyak manusia yang katanya mengaku lebih mulia dan lebih hebat karena memiliki A, ya itu dia si A alias Akal.

Allah menciptakan akal agar kita bisa berfikir, memahami, membedakan mana yang baik dan yang benar. Mencerna segala peristiwa dan diserap secara sehat. Tapi apa yang terjadi sekarang? Akal yang seharusnya digunakan untuk kebaikan, malah bersekongkol dengan nafsu untuk merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Kedzoliman menang, meraung-raung bagai biduanita yang melenakan si pendengarnya sehingga tuli mata hati. Kebenaran bersembunyi entah dimana, sampai peluit wasit bersiul nyaring pada penghujung waktu yang tersisa.

Semua orang tampil sebagai pahlawan. Seakan ingin menyelamatkan dunia dari kejahatan. Tapi siapa penjahat, siapa korban? Apa kalian bisa membedakannya? Bagaimana cara membedakannya jika mereka semua memakai topeng yang sama yaitu kekuasaan.

Masyarakat bertepuk tangan, "horree..!! Penjahat sudah ditangkap..!!". Dan tanpa disadari tepukan-tepukan itu telah memicu bom waktu yang akan menghancurkan diri mereka sendiri. Kasian..

Aah, aku pun tak ingin menyalahkan masyarakat yang sedang bertepuk tangan itu. Mereka hanya sedang rabun, jadi sulit atau bahkan mungkin enggan membedakan mana penjahat dan mana pahlawan.

Hey kamu yang merasa sok hebat...!!! Ketahuilah bahwa dusta tak selamanya bisa kau sembunyikan dari DIA yang lebih berkuasa dari siapapun juga. Bertemanlah dengan mata hatimu. Akrabi ia dengan dengan sebenar-benar tulus dan lurus dari berbagai kepentingan dunia.

Hey tuan-tuan berdasi yang merasa sok pintar..!! Ingatlah bahwa lidahmu sedang menggiring manusia-manusia itu ke dalam jurang pemikiran mereka yang dangkal. Tidakkah nuranimu perih, teriris oleh arogansimu akan kekuasaan dan jabatan.

Kelak kau akan tau, bahwa kebenaran tak selamanya bungkam. Bahwa akan ada pengadilan yang sebenar-benar Maha adilnya. Bahwa topeng-topengmu itu akan dilucuti dihadapan seluruh penduduk langit dan bumi. Dan kita akan lihat, mana yang menang dan mana yang kalah bahkan merugi :-)

*Hari ke 7 di Mei 2013, ditengah carut marutnya pikiranku

Senin, 04 Maret 2013

Sekedar ingat…


Aku mengingatnya lagi, walau tak perlu seluruh ingatan bersikukuh untuk membuatnya hadir. Semacam segelas teh hangat yang kau seduh setiap pagi yang tak perlu ingatan kuat tuk membuatnya. Ia hanya hadir begitu saja. Walaupun kadang tak sesuai kehendak. Hanya ingin…

Aku mengingatku ketika waktu-waktu yang mengapung gamang berusaha kau tangkap satu persatu dan kau jejalkan ke dalam kepala kemudian pecah menjadi serupa kembang api yang meletup-letup cepat. Percikan harap berhamburan bagai anak-anak kecil yang berlarian di kala hujan. Menyentak-nyentak genangan, basah oleh rintik-rintik yang menyegarkan dan kemudian diam menjadi demam..

Ada satu celah menganga di setiap rentang ingatan. Suatu celah yang tersembunyi dalam-dalam walau kadang selalu tersingkap saat hujan mengirimkan sebuah pesan. Celah tempat sunyi dan sepi saling memilin menjadi kerinduan. Sebuah nganga yang berujung pada entah yang akan menelanmu hingga kau tak dapat menemukan jalan pulang.

Di nganga ingatan sembunyi jawab yang dicari dan segala kecap yang tak bisa diucap bibir ataupun mulut ataupun bahasa tetubuhan indera. Ini adalah muara segala ingatan yang pernah ada. Muara yang kandas pada nasib, kemudian beriak lah segala keinginan, kerinduan menunggu pemenuhan. Serupa kolam yang beriak tertetesi hujan kemudian menjadi teduh.. Teduhan yang kekal melampaui segala ingat yang telah tercipta kemudian surut perlahan terhisap lubang waktu menjadi sebuah lupa..

**Awal Maret di 2013, sudah lama gak corat-coret :D

Jumat, 05 Oktober 2012

Sometimes, people change.

Sometimes people change...

Mungkin kita pernah berfikir bahwa watak, sikap, kepribadian, atau tingkah laku seseorang sulit untuk dirubah. Aku pun pernah berfikir begitu. Tapi seiring berjalannya waktu, banyak yang ku lihat, ku rasa, dan ku alami. Bahwa terkadang, orang-orang bisa berubah. Entah berubah ke arah yang baik ataupun ke hal yang buruk. Tapi mengapa mereka bisa berubah?

Mereka berubah karena perjalanan hidup, hal-hal yang terjadi dimasa lalu, kehilangan orang-orang yang mereka cintai, lingkungan, kekecewaan, ataupun mendapatkan pelajaran berharga. Mereka berubah karena perjalanan hidup yang mereka lalui dengan tetesan air mata telah membawa mereka pada kelelahan yang luar biasa. Mereka berubah karena masa yang telah mereka lalui meninggalkan kenangan dan hikmah disepanjang sisa senja yang mereka punya. Mereka berubah karena betapapun kelamnya bayangan masa lalu, tak ada pilihan kecuali berubah menuju haluan yang telah digariskan-Nya. Menuju jalan yang DIA inginkan.

Dan, kitalah yang memilih jalan hidup kita. Kita memilih untuk kembali memulai langkah kita. Kita yang memilih ke arah mana kita akan melangkah, untuk berubah. Kita memilih untuk melihat, mendengarkan, dan merasa. Kita memilih untuk bangkit dari keterpurukan, kita memilih untuk keluar dari kungkungan masa lalu, kita memilih untuk bertahan dari hempasan zaman, kita memilih untuk terus menikmati derita dan terluka lagi bahkan lagi, kita memilih untuk terus tersenyum ceria menghadapi takdirnya, Ataupun kita memilih untuk bersembunyi bahkan berpura-pura, dan tidak menjadi diri sendiri. Kitalah yang memilih dan menentukan diri kita ke arah mana akan berubah...

Dan kita memilih semua itu karena jauh di suatu tempat bernama hati, jiwa dan pikiran kita, kita ingin berubah..Entah itu baik ataupun buruk..kitalah sang penentu kemana arah langkah perubahan dalam diri kita...



Coz sometimes, people change...

Kamis, 16 Agustus 2012

#Letupan1

Ada beberapa letupan dalam fikiran yang sejak lama ingin dituangkan ke dalam cerita. Tapi sampe sekarang belum terwujud. Hanya sekedar benang merah dari sebuah ide yang masih terpintal di benak pikiran. Intinya sudah ada, namun merealisasikannya dalam bentuk kata2 sepertinya..hhhmm...gak boleh bilang ga bisa sih... Sebenarnya bisa saja. Tapi mungkin butuh waktu, dan butuh kemampuan menulis serta penelitian yg mendalam terlebih dahulu (widiiih...serius amat yak, kayak mau ngapain aja :D).

Btw, ngerti ga sih aku lagi ngomongin apa? :D huehehhee..ituu looh, dah sejak lama aku pengen nulis cerpen..hhmm..mungkin juga bisa dijadikan novel. Ide cerita secara garis besar sudah ada. bahkan judulnya..huehehee... Tapi merealisasikannya itu yg belum terlaksana...hehehe..

Ku kasih bocoran ya. Sudah ada 3 ide cerita yg mengendap dikepala selama ini:

1. Jejak-jejak Di Pasir Putih

2. Cintaku Hanyut di Sungai Nil

3. Langit Biru Alexandria

Pada dasarnya sih ketiganya masih seputar tentang C.I.N.T.A hehehe... tapi beda kisah..

Hhhmm..kapan ya kira2 bisa terwujud??

Yaahh..semoga aja bisa ya suatu hari nanti.. Eh, temen2 jika suatu hari nanti ke toko buku trus ketemu novel judulnya seperti diatas..mungkin saja itu novelku..hehehee.. :p



*Ayooo....jangan menghayal muluuu..!!! Just Do It...!!! ^__^